Tugas Akhir Manajemen Rekayasa Industri ITB (Bagian 2 – Pengalaman Pengerjaan TA)

61218319
Sumber gambar: sipasitipatimah.blogspot.com

Halo pembaca, apa kabar? Kali ini saya akan melanjutkan cerita tentang tugas akhir yang saya buat untuk mendapatkan gelar Sarjana Teknik dari program studi Manajemen Rekayasa Industri ITB. Bagian ini adalah bagian kedua dari rangkaian cerita. Bagian pertama dapat dibaca di link berikut: Bagian I

Pengerjaan TA saya memakan waktu sekitar 5 bulan. Dimulai dari pertengahan April 2014 sampai September 2014. Setelah proposal saya diterima oleh dosen pembimbing, hal yang saya lakukan berikutnya adalah mencari perusahaan objek penelitian. Ya, saat pengerjaan proposal saya memang belum menentukan perusahaan objek penelitian karena padatnya jadwal kuliah semester 7. Akhirnya saya menggunakan perusahaan imajiner “PT X” dalam pembuatan proposal dan dosen pembimbing dapat memaklumi.

Setelah mencari informasi secara mandiri, diskusi dengan teman, dosen, dan orang tua, dipilihlah PT Dirgantara Indonesia (PT DI) sebagai perusahaan objek penelitian TA saya. PT DI adalah perusahaan manufaktur produk-produk dirgantara (pesawat terbang, helikopter, dan komponen-komponennya) yang beberapa tahun silam telah dibesarkan oleh Bapak Habibie dengan nama awal IPTN. Alasan paling kuat adalah soal jarak. PT DI berada di Kota Bandung. Jaraknya pun tidak jauh dengan kampus ITB. Dengan memilih PT DI sebagai perusahaan objek, proses diskusi dan pengambilan data dengan pihak perusahaan diharapkan akan mudah. Selain itu, saat ini PT DI sedang menjalankan proyek yang cukup banyak. Proyek-proyek PT DI adalah sasaran empuk para mahasiswa tingkat akhir dari berbagai perguruan tinggi. Bagi saya pun begitu, proyek-proyek PT DI adalah objek yang cocok dengan proposal TA saya. Setelah memutuskan TA di PT DI, segera saya bereskan urusan proses administrasi agar pengambilan data berjalan lancar. Continue reading “Tugas Akhir Manajemen Rekayasa Industri ITB (Bagian 2 – Pengalaman Pengerjaan TA)”

Advertisements

Waspada Pembegalan Di Kota Depok

handcuffs
Sumber gambar: http://www.frontpagemag.com

 

Halo pembaca, kali ini saya ingin mengulas tentang isu yang sedang hangat dibicarakan di Indonesia tentang kota tempat tinggal saya, Kota Depok. Saat ini di Depok sedang marak sekali aksi pembegalan. Sejujurnya, sebelum kasus ini sering terjadi di Depok, saya kurang familiar dengan kata pembegalan. Untuk yang belum tahu pembegalan itu apa,  berikut ini kutipan definisi pembegalan dari  situs http://www.artikata.com/

Pembegalan: 1. proses, cara, perbuatan membegal; perampasan di jalan; penyamunan: – sering terjadi sehingga penduduk di daerah itu tidak berani memakai perhiasan kalau bepergian

Ya, pembegalan itu adalah perampasan yang dilakukan di jalan. Pengguna motor adalah target utama dari pembegal-pembegal ini. Biasanya mereka berkeliaran secara berkelompok pada tengah malam. Para pembegal mengerubungi si korban lalu mengarahkan korban ke tempat gelap dan sepi untuk melakukan perampasan. Ada juga yang melakukan perampasan dengan cara menabrak motor korban sampai jatuh lalu merampas motor korban. Dari beberapa media online yang saya baca, daerah-daerah yang rawan akan pembegal adalah:

  1. Jalan Margonda Raya (jalan protokol Kota Depok)
  2. Fly Over Universitas Indonesia (perbatasan antara Kota Depok dan Jakarta Selatan, persis sebelum pintu masuk Universitas Indonesia)
  3. Jalan Lenteng Agung (sudah berada di daerah Jakarta Selatan, berbatasan dengan Kota Depok)
  4. Jalan Juanda (salah satu jalan utama di Kota Depok, penghubung Jalan Margonda Raya dan Jalan Raya Bogor)
  5. Komplek Grand Depok City (kawasan komplek perumahan yang sangat luas, jalannya besar, namun belum sepenuhnya dibangun sehingga masih cukup gelap dan sepi)
  6. Jalan Krukut (salah satu jalan penghubung Depok dan Jakarta Selatan)
  7. Jalan Limo (akses menuju daerah Cinere)

Continue reading “Waspada Pembegalan Di Kota Depok”

Tugas Akhir Manajemen Rekayasa Industri ITB (Bagian 1 – Kuliah TA 1)

fti-007
Sumber gambar: http://www.fti.itb.ac.id

Halo WordPress! Kali ini saya mau cerita tentang proses tugas akhir saya.

Seperti tingkat pendidikan S1 pada umumnya, untuk mendapatkan gelar sarjana mahasiswa harus membuat tugas akhir berupa penelitian ilmiah/skripsi/ yang nantinya akan dipresentasikan dan diuji oleh dosen. Ada beberapa universitas yang tidak mewajibkan skripsi sebagai syarat kelulusan. Sebagai gantinya, mahasiswa bisa memilih untuk melakukan magang/kerja praktek atau mengambil kelas/SKS tambahan pengganti skripsi.  Di program studi saya, Manajemen Rekayasa Industri (MRI) ITB, tugas akhir berupa skripsi adalah hal yang wajib dikerjakan untuk mendapatkan gelar sarjana teknik.

Tugas akhir ini memakan waktu 2 semester memiliki total bobot 7 SKS. Tujuh SKS itu terdiri dari 2 SKS mata kuliah Tugas Akhir Manajemen Rekayasa I (disingkat TA 1) dan 5 SKS mata kuliah Tugas Akhir Manajemen Rekayasa 2 (disingkat TA 2).

Apa bedanya TA 1 dan TA 2? Mata kuliah TA 1 adalah proses belajar mengajar di kelas. Ada dosen yang memberi materi di kelas, tugas-tugas dan ujian. Saya masih ingat, mata kuliah ini diajarkan oleh Bapak Dr. Iwan Inrawan W. Inti dari kuliah TA 1 adalah mempersiapkan bekal penting untuk membuat TA 2 yang merupakan penelitian yang akan kita buat sendiri. Bekal-bekal yang diberikan dan sangat penting untuk TA 2 adalah: Continue reading “Tugas Akhir Manajemen Rekayasa Industri ITB (Bagian 1 – Kuliah TA 1)”

semester lima, sebuah titik balik.

semester baru telah datang.

saya akan menjalani semester kelima dalam kehidupan perkuliahan di ITB. tadi siang baru saja melakukan proses perwalian (daftar ulang) untuk melanjutkan kuliah di semester lima. semester ini saya mendaftar 20 sks dengan tujuh mata kuliah. paket untuk semester ini hanya 17 sks. awalnya agak bingung untuk memilih mata kuliah tambahan sampai akhirnya saya memilih mata kuliah intelijen pasar dengan beban tiga sks sehingga beban sks yang diambil genap menjadi 20 sks.

pada saat melihat rencana studi dan sejarah studi saya, agak miris rasanya. kuliah saya tertinggal dari teman-teman saya. untuk mengejar yang ketinggalan itu pun tidak bisa dilakukan di semester ini. IP saya tak cukup untuk mengambil sks lebih dari 20. di saat teman-teman mengambil banyak sks, saya hanya bisa mengambil sks sedikit karena IP saya juga sedikit… ya, itu akibat keteledoran saya selama dua tahun kuliah di ITB ini. terlalu banyak bolos, melakukan hal sia-sia, kalau kata teman-teman saya terlalu sering golar-goler.

tak ada gunanya untuk menyesal, meratapi noda hitam yang tertoreh di masa lalu. semester lima ini adalah kesempatan untuk membalikkan keadaan. ini adalah langkah saya untuk menanjak. dengar cerita dari senior saya, semester lima ini kesempatan untuk meraih indeks prestasi yang gemilang. kata mereka kuliah-kuliahnya banyak menggunakan analisis dan “ngems”, tinggal bersilat pena. tapi yang pasti, kesungguhan usaha dan doa harus ditingkatkan.

bismillah, semoga kuliah semester ini (dan semester-semester berikutnya) lancar.

NO MORE DUA KOMA, HARUS TIGA KOMA, BAHKAN EMPAT

amiin.

Huruf S, Sebuah Awal

Saya sangat jarang menulis. Tidak tahu mengapa, saat ini (medio Juli 2012) saya tergugah untuk menulis. Saya membuat blog baru, membuka lembaran baru. Saya ingin bisa menulis. Jika selama ini waktu-waktu saya dihabiskan oleh kegiatan yang hilang begitu saja, mulai saat ini saya mencoba melakukan sesuatu yang produktif.

Rasanya masih kaku sekali otak dan jari saya untuk melimpahkan kata-kata. Memang, kata orang-orang butuh proses pembelajaran untuk bisa menulis dengan baik.

Dan proses pembelajaran itu dimulai sejak saya menekan tombol S. Huruf pertama dalam postingan ini.

(Judul dibuat setelah isi post selesai dibuat)